cerita motivasi tentang integritas
Mengingatkejadian yang baru saja saya alami, sepanjang perjalanan darat dari Jogja ke kampung halaman, tiba-tiba terlintas kata integritas di kepala saya. Mungkin sudah takdir-Nya perjalanan udara dari Jakarta ke Jogjakarta memberi saya sedikit pelajaran tentang arti kejujuran. Pelajaran yang nilainya tidak sebanding dengan meal saya yang hilang. Sepertinya terkesan mengada-ada.
MembangunIntegritas Di sekolah kehidupan saya belajar bahwa setiap orang perlu membangun integritas dirinya, agar ia dimungkinkan membangun integritas kelompok Sopan Santun Seorang pensiunan guru berjalan menuju kasir di K-Mart, supermarket yang lumayan terkenal di kota itu. Kaki kirinya terasa sakit, ia berhara Jiwa Pramuka Yudi
Integritasadalah ketika atasan atau kolega memberikan informasi yang dirahasiakan dan tetap menjaganya. Contohnya, Bosmu memberitahu bahwa beberapa trainee tidak lulus masa probation. Selain itu, juga memintamu untuk tidak membagikan informasi ini pada siapapun sampai adanya surat resmi dari perusahaan.
CeritaSebagai Motivasi Peserta Didik Mengembangkan Potensi di Masa Pandemi. Kukuh Subardi, S.Pd.I. MTs Negeri 2 Purworejo. Pendidikan merupakan kunci kemajuan peradaban bangsa. Pada peradaban bangsa mana pun, profesi guru memiliki peran yang strategis, karena penyandang profesi guru mengemban tugas sejati bagi proses kemanusiaan, pemanusiaan
4 "Memang benar bahwa integritas saja tidak akan menjadikanmu seorang pemimpin, tetapi tanpa integritas, kamu tidak akan pernah menjadi pemimpin." - Zig Ziglar 5. "Tidak ada nilai yang lebih
Rencontre Du Troisieme Type Film Streaming. Meski terdengar sederhana, tapi sebenarnya membangun integritas diri bukanlah perkara yang mudah. Diperlukan kejujuran, konsistensi, dan tentu saja keberanian. Ketiga hal tersebut adalah kunci untuk memiliki integritas diri yang tinggi. Dengan memiliki integritas tentu kamu akan menjadi pribadi yang lebih berkualitas dan selalu dicari oleh perusahaan. Pasalnya, kini banyak perusahaan yang tak hanya melihat kandidat dari skill yang dimilikinya. Namun, dengan punya integritas dalam bekerja juga menjadi nilai plus yang bisa membuat kandidat diterima. Lantas, bagaimana cara efektif untuk membangun integritas diri? Yuk, cari tahu jawabannya di sini! 1. Selalu tepati janji yang dibuat © Selama hidup tentunya kamu sudah sering membuat janji baik itu dengan keluarga, teman, atau bahkan rekan kerja, kan? Nah, cara pertama untuk membangun integritas diri adalah dengan selalu menepati setiap janji yang sudah kamu buat. Entrepreneur mengatakan jika tidak menepati janji, berarti kamu telah gagal memenuhi tanggung jawab. Padahal, salah satu ciri orang yang memiliki integritas adalah selalu bertanggung jawab dengan apa pun yang dilakukannya. 2. Selalu memegang nilai-nilai yang dimiliki © Inti dari memiliki integritas adalah dengan tidak membohongi diri sendiri dan selalu memegang teguh nilai-nilai yang dimilikinya. Kamu pasti memiliki nilai atau prinsip yang kamu junjung tinggi, kan? Nah, orang yang berintegritas pasti akan hidup dengan memegang nilai atau prinsip tersebut. Hal itu sesuai dengan penjelasan Inc yang menyebutkan bahwa untuk menjalani kehidupan yang berintegritas, diperlukan kejujuran. Karena itu, kamu juga harus terbiasa untuk selalu jujur dengan diri sendiri. Dengan begitu, kamu juga akan terbiasa melakukan kejujuran dengan siapa pun. 3. Pikirkan konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan © Dalam membangun integritas diri kamu juga harus selalu berpikir dulu sebelum bertindak. Seseorang yang memiliki integritas akan selalu memilih tindakan yang terbaik menurut pemahamannya. Meski tidak ada yang melihat, mereka akan tetap menjunjung etika dan moral yang dipegangnya. Karena itu, sebelum melakukan suatu tindakan, mereka akan memikirkan konsekuensinya dan tidak akan gegabah. 4. Latih tindakan yang mendukung integritas © Ada beberapa hal yang biasanya dilakukan oleh orang yang berintegritas. Misalnya tidak takut memberikan pendapat atau berani menegur rekan kerja. Menurut Success melakukan kebiasaan yang bisa mendukung tumbuhnya integritas sangat perlu dilakukan di kehidupan sehari-hari. Contohnya, kamu bisa meningkatkan kebiasaan jujur, bertanggung jawab, atau berani mengeluarkan pendapat. Lalu, menghentikan kebiasaan melakukan tindakan yang mengurangi nilai integritas seperti egois atau tidak mau mengaku salah. Jadi, dengan terbiasa melakukan tindakan yang mendukung nilai integritas, pastinya kamu bisa lebih mudah untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. 5. Dekatkan diri dengan pengaruh yang tepat © MindTools menyebutkan bahwa orang-orang dengan integritas sering memiliki karakteristik yang sama. Contohnya, rendah hati, punya rasa percaya diri yang kuat, dan harga diri yang tinggi. Nah, dengan mendekatkan diri dengan orang-orang yang punya karakteristik seperti itu, maka bisa membuatmu lebih termotivasi untuk membangun integritas diri. Dengan berada di sekitar orang yang memiliki integritas tinggi, tentu kamu akan lebih mudah untuk mencoba berlatih hal-hal tersebut. Misalnya, kamu lebih percaya diri dan berani memberikan pendapat atau berani menegur jika ada seseorang yang melakukan tindakan yang salah. Nah, apabila kamu masih penasaran mengenai bagaimana cara yang efektif untuk mengembangkan integritas diri, sebaiknya jangan lewatkan kelas yang tersedia di Glints ExpertClass. Di sana ada banyak kelas pengembangan diri dengan pemateri yaitu para pakar yang sudah berpengalaman di bidangnya selama bertahun-tahun. Jika ingin tahu pilihan kelasnya, segera klik tombol di bawah ini, ya! CEK KELASNYA Jangan tunda lagi, segera cari kelas yang membahas soal personal development sekarang juga! 5 Ways to Help Build Your Integrity How to Preserve Your Integrity 9 Tips to Help You Strengthen Your Integrity Integrity Makes You a Great Entrepreneur. Here's How to Build More of It in Your Life
Daftar Isi Pengertian Integritas Konsep Integritas Perilaku yang Berintegritas 9 Nilai Integritas 1. Jujur 2. Tanggung Jawab 3. Disiplin 4. Mandiri 5. Kerja Keras 6. Sederhana 7. Berani 8. Peduli 9. Adil Jakarta - Integritas yang dimiliki oleh seseorang kerap dikaitkan dengan kualitas diri yang dimiliki oleh orang tersebut. Hal tersebut disebabkan karena integritas akan digunakan untuk menilai perilaku atau sikap kita memiliki kualitas diri yang baik maka kita dinilai harus memiliki integritas pula. Lantas, apa sebenarnya integritas itu? Yuk, simak penjelasan lebih lanjut tentang mendefinisikan integritas sebagai mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, kejujuran. Sehingga integritas sering kali dikaitkan dengan karakter yang dimiliki dalam buku 'Pendidikan dan Implementasi Integritas' yang ditulis oleh Zico Junius Fernando, dkk, disebutkan bahwa para pakar banyak yang mendefinisikan integritas merupakan sikap jujur serta cinta dan bangga akan kebenaran yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari individu dapat diimplementasikan ke dalam beberapa konteks kehidupan manusia contohnya adalah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan sikap integritas yang dimiliki setiap orang dalam implementasi tersebut dapat menciptakan stabilitas sosial masyarakat yang kuat dan George dalam jurnal 'Memahami Konsep Integritas' yang dituliskan oleh Dwi Prawani Sri Redjeki dan Jefri Heridiansyah menuturkan bahwa integritas dan bertindak etis merupakan sinonim meskipun secara literal tidak ada konotasi moral di hal tersebut dapat kita pahami bahwa integritas yang dimiliki seseorang memiliki dampak yang cukup besar baik bagi dirinya maupun lingkungan masyarakatnya. Seseorang dengan integritas yang baik biasanya akan dapat diandalkan dan dipercaya oleh orang IntegritasMasih dalam buku 'Pendidikan dan Implementasi Integritas' terdapat penjelasan terkait konsep integritas yang mengambil dari perspektif Executive Brain Assessment. Konsep integritas ini terbagi ke dalam tiga ranah, yaitu1. Ranah KejujuranKonsep ini adalah salah satu dimensi utama dalam integritas yang menekankan kepada kesadaran akan pentingnya kebenaran dan bertindak benar. Sikap jujur terdiri atas aspek empati, tidak berprasangka dan rendah Ranah KonsistensiKonsistensi yang ditunjukkan dalam sikap integritas seseorang adalah konsistensi dalam perbuatannya. Terdiri atas aspek pengendalian emosi, akuntabel dan fokus secara Ranah KeberanianSalah satu bentuk integritas dalam ranah ini adalah berani untuk menegakan kebenaran secara terbuka dan tegas. Aspek yang terkandung dalam ranah ini adalah keberanian dan rasa percaya yang BerintegritasSalah satu upaya untuk menilai sikap integritas seseorang adalah dengan cara melihat perilaku milik orang tersebut. Berikut merupakan perilaku orang berintegritas yang mengutip dari jurnal 'Memahami Konsep Integritas'- Jujur- Sikap konsisten dengan ucapan dan tindakannya- Patuh terhadap aturan dan etika berorganisasi- Memegang teguh pada komitmen dan prinsip yang diyakini benar- Bertanggung jawab atas tindakan, keputusan dan resiko yang menyertainya- Kualitas individu yang menimbulkan rasa hormat dari orang lain- Kepatuhan yang konsisten pada prinsip-prinsip moral yang berlaku di masyarakat- Kearifan dalam membedakan benar dan salah serta mendorong orang lain untuk melakukan hal yang sama9 Nilai IntegritasBerikut nilai-nilai integritas yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari yang dikutip dari laman Kemdikbud1. JujurNilai ini ditunjukkan melalui sikap lurus hati, tidak curang dan tulus ikhlas. Biasanya orang dengan integritas kejujuran akan berpegang teguh pada prinsipnya dan menolak Tanggung JawabBiasanya orang yang memiliki tanggung akan akan berani untuk mengakui kesalahan yang dilakukannya. Selain itu mereka juga merupakan seseorang yang amanah dan dapat DisiplinDisiplin dapat kita pahami sebagai sikap mental dalam melakukan hal yang seharusnya pada saat yang tepat dan menghargai waktu. Melalui komitmen yang kita miliki kita dapat menjadi seorang yang MandiriBiasanya seseorang yang mandiri tidak akan bergantung pada orang lain. Sikap ini dapat membantu seseorang untuk menata dan menjaga dirinya sendiri. Selain itu mereka juga dapat menetapkan gambaran hidupnya yang Kerja KerasBiasanya seseorang yang pekerja keras akan mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh sampai dengan targetnya tercapai. Mereka juga akan memiliki etos kerja yang tinggi dan akan terus SederhanaSeseorang yang sederhana merupakan seorang yang akan hidup secara wajar sesuai dengan kebutuhannya. Mereka akan melepaskan dirinya dari segala ikatan yang dirasa tidak BeraniSeorang yang berani biasanya tidak takut ketika mereka dihadapkan pada bahaya ataupun kesulitan. Mereka akan memiliki hati yang mantap, rasa percaya diri yang tinggi, pantang mundur dan tidak PeduliMereka cenderung akan menaruh perhatiannya terhadap kondisi di sekitarnya dan orang lain. Seorang yang peduli juga akan mengasihi dan memperlakukan orang lain sesuai dengan bagaimana ia ingin AdilSeorang yang adil akan bersikap imparsial dan tidak akan memihak kecuali kepada kebenaran. Mereka akan bersikap secara profesional sehingga tidak akan berpihak dengan alasan hubungan tertentu. Sikap ini dapat menghindari adanya konflik kepentingan. Simak Video "AG Saksikan Mario Dandy Aniaya David Sambil Merokok" [GambasVideo 20detik] faz/faz
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Poster Anti Korupsi di KP2KP ManggarTanggal 09 Desember diperingati sebagai Hari Anti Korupsi Sedunia Hakordia. Maka tulisan kali ini, berkisah tentang pembentukan karakter anti ingin bercerita tentang kisah seorang penggembala yang mempunyai integritas yang patut dicontoh. Dikisahkan seorang penggembala mengembala ratusan ekor kambing, kemudian Khalifah Umar yang kebetukan lewat mendatangi dan mengujinya, dengan berpura-pura hendak membeli seekor kambingnya. Namun si pengembala tidak mau. Bahkan ketika dirayu bahwa tuannya tidak tahu, jika seekor gembalanya dijual. Jawaban si penggembala, membenarkan bahwa tuannya tidak tahu, tetapi Allah Yang Maha Tahu mengetahuinya, maka dia pun tetap tidak mau menjualnya. Mendengar jawaban tersebut, akhirnya sang Khalifah pun bergembira dan membebaskannya, serta memberikannya hadiah beberapa ekor kambing kepadanya. Hikmah dari kisah ini, adalah pelajaran integritas. Kita harus menjadi orang-orang yang berintegritas layaknya penggembala itu. Merasa diawasi oleh Allah SWT, ada rasa muraqabatullah, dimanapun dan kapanpun. Sehingga tidak harus ada kepala kantor, pejabat pengawas atau pegawai integritas yang mengawasi, kita harus berintegritas, yakin merasa diawasi oleh untuk menjadi pribadi berintegritas tidak harus kuliah tinggi-tinggi seperti S1, S2 apalagi S3, juga tidak harus kuliah di STAN. Karena penggembala yang tidak sekolah pun bisa. Berintegritas juga tidak harus menunggu menjadi pejabat, kepala kantor atau direktur jenderal, tetapi semua kita bisa. Terbukti, penggembala yang tidak sekolah, bukan pejabat, dan bahkan penghasilannya tidak pasti pun ijinkan penulis cerita yang kedua, yakni kisah pemungut zakat yang dapat gratifikasi. Dikisahkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW mengutus seorang petugas pemungut zakat, untuk memungut zakat ke rumah-rumah warga. Setelah kembali, yang bersangkutan menyampaikan laporan, bahwa ini bagian zakat, dan ini hadiah dari masyarakat yang berzakat untuk saya. Mendengar lamporan itu, Rasul SAW marah, naik ke mimbar dan berpidato dengan kisah ini, ulama sepakat, bahwa imbalan yang diterima oleh seorang petugas yang telah ditugaskan dan mendapatkan gaji, hukumnya haram. Dalam kisah ini, petugas amil zakat sudah mendapatkan upah dari bagian amil, maka uang terima kasih tersebut menjadi haram. Padahal petugas amil zakat tersebut berkeliling, dari rumah ke rumah, menghitung dan membawa zakatnya ke hadapan Rasul SAW, serta tidak pernah meminta hadiah. Hikmah dari kisah ini, adalah petugas zakat tersebut mirip pegawai pemerintah. Pegawai pemerintah ditugaskan oleh negara untuk menunaikan tugas tertentu, dan atas tugas tersebut sudah diberi gaji rutin bulanan, maka hukum uang terima kasih, uang lelah, uang bensin, atau uang rokok, atau apapun namanya, bahkan apapun bentuknya, misalnya berubah bentuk menjadi parcel, oleh-oleh, tiket, atau fasilitas, walaupun tidak meminta, hukumnya kita saling menjaga, saling meningatkan satu sama lain. Lihat Pendidikan Selengkapnya
Suatu hari seorang karyawan diminta membuat laporan palsu di tempat kerjanya. Dengan alasan untuk menyelamatkan reputasi perusahaan dan menjaga agar klien tidak tahu bahwa perusahaannya telah menggelembungkan proyeknya. Pesan atasannya saat itu, "Klien tidak perlu tahu yang sebenarnya terjadi, karena jika mereka mengetahuinya, akan merugikan kita. Jadi kita perlu memberi mereka versi cerita yang lain." Versi cerita yang lain itu tentu saja sama artinya dengan berbohong, dan karyawan tersebut ditugaskan untuk menjelaskan hal itu pada klien. Selama beberapa jam karyawan tersebut merasa tersiksa, ia harus membuat keputusan mengikuti apa yang diminta atasannya dan apa yang ingin ia lakukan sebagai seorang yang memiliki integritas. Satu jam sebelum pertemuan dengan klien, ia akhirnya membuat keputusan. Ia menelepon atasannya dan mengatakan bahwa ia tidak bisa berbohong kepada klien, dan bahwa harus ada solusi, lebih baik jujur dalam mengatasi masalah tersebut. Setelah menutup telepon, ia tahu bahwa waktu pemutusan sudah dekat. Benar saja, ia diminta untuk mencari pekerjaan lain karena ia dianggap tidak cocok dengan budaya perusahaan. Banyak di antara kita yang mengalami pengalaman serupa, harus membuat keputusan yang nantinya akan menentukan siapa diri kita dan apa yang kita yakini. Kita berada di persimpangan di mana kita harus memrilih antara godaan melakukan penyimpangan demi keuntungan’ atau melakukan hal yang benar. Keputusan Anda, meski berupa tindakan terkecil sekalipun dapat berdampak pada integritas dan akhirnya reputasi Anda. Sepertinya setiap orang pernah mengalami keadaan dimana tak mudah untuk melakukan hal yang benar tanpa risiko. Namun yakinlah bahwa akan jauh lebih baik untuk hidup dan bekerja dengan integritas, dan ketika kita menjadi terkenal karena sifat tersebut makan akan sangat dihargai. Demikian juga hidup dan karir kita dapat berkembang. Integritas dapat diartikan selalu melakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat, bahkan ketika poster tentang pentingnya kejujuran’ di dinding sudah tidak ada, juga bahkan ketika pilihan yang harus tidak mudah. Integritas dapat juga diartikan sebagai tetap setia kepada diri sendiri dan nilai-nilai yang Anda pegang, bahkan ketika Anda dihadapkan dengan konsekuensi serius bagi pilihan-pilihan yang Anda buat. Hal yang berkaitan dengan masalah integritas seperti kejujuran, adalah hal yang tidak dapat dinegosiasikan. Ketika kita menjalani hidup dengan integritas, itu berarti bahwa kita membiarkan tindakan kita berbicara tentang siapa diri kita dan apa yang kita yakini. Integritas adalah pilihan yang kita buat, dan itu adalah pilihan yang harus kita buat terus-menerus dan berulang-ulang. Tiga Alasan Terbesar Mengapa Integritas Penting Pertama, hidup dalam integritas berarti bahwa kita tidak mempertanyakan diri kita sendiri. Ketika kita mendengarkan hati kita dan melakukan hal yang benar, hidup menjadi sederhana, dan kita hidup dalam damai. Tindakan kita sekarang terbuka untuk dilihat semua orang, dan kita tidak perlu khawatir tentang hal-hal yang kita sembunyikan. Menurut penelitian bohong membuat detak jantung meningkat, pola nafas juga lebih cepat, dan produksi keringat lebih banyak. Hal itu menunjukkan bahwa tubuh kita sesungguhnya lebih menyukai integritas. Kedua, ketika kita memiliki integritas, kita mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Ini sangat penting di tempat kerja terutama bagi mereka dalam posisi kepemimpinan. Mereka melihat Anda sebagai orang yang dapat diandalkan dan bertanggung jawab atas tindakan Anda. Ketiga, kita menjadi panutan, apakah kita suka atau tidak. Kenapa? Karena integritas merupakan ciri dari kepemimpinan etis baik di perusahaan, klien, rekan kerja, masyarakat, keluarga, dan juga agama menginginkan pemimpin yang bisa mereka percayai. Ketika Anda menjalankan integritas, Anda menunjukkan pada semua orang bahwa Anda layak dipercaya dan dihormati. Selamat menjalankan integritas di manapun Anda berada.
Di dalam pesawat dari Jakarta ke Jogjakarta, sepulang dari suatu acara di Belitong, saya duduk di kursi 7F dekat jendela sebelah kanan. Penerbangan saya termasuk low cost carrier tetapi mendapat in flight meal atau makanan ringan di atas pesawat. Karena rasa kantuk yang menggelayut, akhirnya saya terlelap tidak lama setelah pesawat lepas landas. Kira-kira 30 menit kemudian saya terbangun dan pesawat sudah berada di ketinggian sekitar 26 ribu kaki. Tentu saya berharap sudah ada makanan ringan sebagai jatah’ saya. Namun harapan tinggal harapan. Makanan ringan tidak ada di depan saya. Saya mencarinya di bawah kaki, barangkali terjatuh, ternyata juga tidak ada. Lantas saya menoleh ke penumpang sebelah kiri dan saya melihat di atas meja lipatnya ada meal 2 pack. Oh, rupanya oleh pramugari meal saya dititipkan di atas meja lipat penumpang sebelah saya yang ternyata juga masih terlelap. Saya berpikir begitu. Tentu saya merasa tidak enak kalau langsung saya ambil begitu saja tanpa permisi. Akhirnya saya tunggu saja penumpang sebelah sampai terbangun. Mungkin beliau juga sangat lelah kondisinya. Saya yakin beliau nanti juga akan memberikannya kepada saya. Kemudian terdengar pilot mengumumkan bahwa pesawat sebentar lagi akan mendarat di bandara tujuan. Tak lama akhirnya pesawat pun mendarat dengan mulus di landasan. Singkat cerita, sampai semua penumpang turun dari pesawat, tanpa babibu dan dengan sedikit gerakan yang mencurigakan’ 2 pak meal tersebut dibawa semua oleh penumpang sebelah, termasuk meal jatah saya. Akhirnya saya pun tidak jadi mendapat jatah’ meal saya. Ya sudahlah tidak mengapa, saya ikhlaskan saja. *** Mengingat kejadian yang baru saja saya alami, sepanjang perjalanan darat dari Jogja ke kampung halaman, tiba-tiba terlintas kata integritas di kepala saya. Mungkin sudah takdir-Nya perjalanan udara dari Jakarta ke Jogjakarta memberi saya sedikit pelajaran tentang arti kejujuran. Pelajaran yang nilainya tidak sebanding dengan meal saya yang hilang. Sepertinya terkesan mengada-ada. Lha wong cuma makanan ringan saja kok terlalu dipikir serius… Menurut KBBI arti integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan, kejujuran. Sedangkan dalam nilai budaya kerja instansi kami, Kementerian Agama, integritas dimaknai sebagai keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar. Tidak ada yang perlu dipertentangkan dari kedua pemaknaan di atas. Sesampai di rumah, saya teringat wejangan seorang kyai di suatu majlis ta’lim beberapa minggu yang lalu tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang pemimpin di suatu negara yang selalu berdoa dan berharap menjadi negara baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Setelah mencari ke sana ke mari, akhirnya ketemu juga buku catatan kecil saya tentang contoh keteladanan bagaimana integritas itu terwujud. Wejangan dari Pak Kyai ini bukan cerita dongeng khayalan yang mengada-ada. Wejangan itu tentang kisah teladan yang patut kita jadikan pegangan dan panutan sampai kapan pun. Kisah tentang seorang pemimpin dunia. Kisah yang telah mahsyur dan pantas diceritakan oleh orang tua sebagai pengantar tidur anak, yaitu kisah teladan sang Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Umar merupakan tipe seorang pemimpin pemberani yang dijuluki Al Faaruuq oleh Nabi Muhammad SAW setelah masuk Islam. Al Faaruq artinya pemisah antara yang haq dan yang batil. Dengan masuknya Umar ke dalam Islam maka Umar menjadi pembeda antara yang haq dan yang batil. Selain itu beliau juga sering dipanggil dengan Singa Padang Pasir karena keberaniannya. *** Begini kisahnya. Suatu hari, di dalam perjalanan ke suatu tempat beliau bertemu dengan seorang anak kecil penggembala kambing. Kemudian beliau mendekati anak tersebut dan berbicara padanya. “Banyak sekali kambing yang kau pelihara. Semuanya bagus dan gemuk-gemuk. Juallah kepadaku barang satu ekor saja,” kata Khalifah Umar kepada si anak gembala. “Saya bukan pemilik kambing-kambing ini. Saya hanya menggembalakan kambing-kambing ini dan memungut upah darinya,” kata anak gembala. “Kambingmu itu amat banyak. Apakah majikanmu tahu?” kata khalifah membujuk. “Tidak, majikanku tidak tahu berapa ekor jumlah kambingnya, dan tidak tahu berapa yang lahir dan yang mati. Tidak pernah memeriksa dan menghitungnya,” kata anak gembala. “Katakan saja kepada majikanmu, salah satu kambingnya dimakan serigala,” ucap Khalifah Umar. Anak gembala itu terdiam. Sejenak kemudian, dia lalu berkata, “Lalu, di mana Allah?” Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar menitikkan air mata. Saat anak itu berkata “Di mana Allah?”, dia merasa anak itu hendak menjelaskan padanya bahwa dengan berbohong berarti dia menafikan keberadaan Allah. Bukankah Allah Maha Melihat? Dipeluknya anak gembala itu, lalu dimintanya agar si anak gembala mengantarkannya kepada majikannya. Sesampai di rumah majikan anak itu, Khalifah Umar langsung membeli anak gembala itu dan memerdekakannya saat itu juga. Tidak hanya itu, semua kambing yang dimiliki oleh majikan anak gembala itu dibelinya dan diberikan kepada anak gembala yang jujur dan amanah itu sebagai hadiah. *** Begitulah teladan integritas berupa kejujuran dari sang pemimpin yang terjadi ratusan tahun yang lampau. Jika kita selalu bisa menyadari dan menghadirkan bahwa ada ALLAH SWT di sekitar kita setiap saat, maka Allah-lah yang akan menjaga kita. Membangun zona integritas tidak perlu muluk-muluk. Bulatkan niat, mulailah dari diri sendiri, dimulai dari hal yang kecil, dan dimulai dari sekarang juga. Allah berfirman QS. Ali Imron159 “….faidzaa azamta fa tawakkal alallah….” Terjemahan ….apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah…. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kisah teladan tersebut. Aamiin. ***
cerita motivasi tentang integritas